Sabtu, 06 April 2013

Kitab Banyugeni 3



Kitab banyugeni yang menjadi rebutan banya orang menimbulkan banyaknya korban memang harus dimusnahkan. Joko dedeg tegopoh-gopoh sambil menggendong mayat wanita yang dicintainya tiba di kediamannya ki lurah Trunowiah. Dan disambut oleh sang pemilik rumah dengan raut muka masam dan sesekali meneteskan air mata. “duh gusti, apa yang menimpammu kini putriku. Nang apa yang terjadi kenapa putriku?”, tanya ki lurah sambil terisak. “dia terkena pukulan tangan besi milik ki jenggolo saat dia hendak membunuhku ki”,”maafkan saya karena telah melibatkan putri ki lurah” lanjut joko dedeg. “duh ngger, walau berat hati ini tapi ini sudah menjadi kehendak yang maha kuasa. Kita hanya menjalani laku di dunia ini”, ratap ki lurah trunowiah.
“saya tidak tahu kalau Dewi Wardani hendak berbuat demikian ini, saat saya terjepit saat melawan ki jenggolo dan tangan kanannya Bagus Pramudya”, “kami sama-sama berebut kitab Banyugeni yang selama ini menjadi sumber malapetaka”, lanjut joko dedeg dengan sedikit lirih dan terisak. “saya serahkan kitab ini kepadamu ki, saya tak kuasa bila memiliki kitab ini”, ucap joko dedeg. “kitab ini memang memiliki kekuatan magis yang sangat hebat, tapi dia juga meminta korban setiap akan berpindah tangan. Kecuali berpindah tangan dengan kehendak kitab Banyugeni sediri atau diserahkan kepada orang lain oleh pemilik yang terakhir”, ujar sang lurah ki jenggolo. “sekarang kita harus menguburkan puteriku”.

Banyak kalangan warga kampung menghadiri pengurusan jenazah Dewi Wardani sampai penguburannya. Karena ki lurah adalah orang kepercayaan raja walaupun tidak memiliki kedudukan penting di kerajaan. Dan sifat welas asihnya terhadap sesama dan alam sekitar dia selalu dieluh-eluhkan oleh warga sekitar. Namun dia tidak tahu kalau joko dedeg yang sebenarnya adalah seorang perampok. Bahkan dia menganggap joko dedeg adalah anaknya sendiri hingga puterinya pun diam-diam menaruh perasaan terhadap pemuda tampan bersahaja namun perampok.
Keesokan harinya ki lurah berkeinginan mengajak joko dedeg berkunjung ke kerajaan untuk menyerahkan kitab yang membawa malapetaka itu kapada raja. “apakah kau tidak keberatan menemaniku ke kerajaan nak joko?”, tanya ki lurah. “mohon maaf ki, saya tidak dapat menyertai aki lurah ke kerajaan. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Ini menyangkut tugas yang saya emban dari eyang hamba”, terang joko dedeg. “baiklah kalau begitu saya tidak dapat memaksamu. Dan aku hanya dapat berdoa untukmu semoga perljalananmu selamat duhai anakku”,ucap ki lurah. “terimaksih ki, doa juga selalu saya haturkan kepada yang maha asung dan maha bijaksana semoga keselamatan selalu menyertai aki lurah”, ucap joko dedeg. “kalu begitu saya pamit ki”. “baiklah selamat jalan, anakku. Sampai berjumpa kembali”.
Perpisahan itu membuat hati ki lurah Trunowiah semakin terisak dalam hatinya saat dalam perjalanan. Dengan ditemani rombongan yang seadanya ki lurah mulai melangkah ke kerajaan yang membutuhkan waktu dua hari dua malam perjalanan kaki. Dan tak henti-hentinya ki lurah memanjatkan doa untuk ketenteraman jiwanya karena sedari tadi dia nampak gelisah. “ada apa ki, saya lihat aki lurah terus saja memanjatkan doa. Apakah aki baik-baik saja?”,tanya seorang pemuda tanggung dengan menuntun kuda yang ditumpangi ki lurah Trunowiah. “aku mendapatkan firasat yang tidak baik kawan-kawanku. Sebaiknya kalian semua berbalik arah dan kembali ke kampung. Saya akan melanjutkan perjalanan ini sendirian”, pinta ki lurah. “tidak ki, kami akan menyertai aki kemanapun aki melangkahkan kaki. Biarkan kami yang menjadi tunggangan aki jika aki membutuhkannya”, ujar orang tua yang disebelah kanan kuda tunggangannnya. “baiklah jika itu mau kalian, namun jika ada tanda-tanda akan adanya bahaya aku harap segera meninggalkanku”.
Belum sempat selesai perkataan ki lurah tiba-tiba munculah dua orang tua di hadapan mereka. “hei siapa kalian, ada keperluan apa”,tanya salah seorang dari rombongan. “saya nyi Darsih, dan ini suamiku ki Darmo. Dan keperluan kami adalah untuk meminta barang-barang bawaan kalian dan uang kalian. Atau kami akan mengambilnya sendiri biar kalian semua tidak merasa kerepotan”, tungkas nyi Darsih. “jahanam kalian, kalian tidak tahu bahwa orang yang duduk di kuda ini adalah paman raja kalian”. “ha ha ha ha, apa kau bilang paman raja kami. Jangan bermimpi. Kami tidak mempunyai raja karena kami dalah raja di daerah ini. Nyi darsih ayo kita serang”, ucap ki darmo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar