Sabtu, 25 Mei 2013

Cinta sang Wanita Saweran



Dia menyawerku tepat di depan wajahku saat aku membawakan tembang melayu, lembar-lembar demi lembar uang kertas ia gelontorkan begitu saja. Aku juga segera mengambil selebaran uang yang jatuh di sekitarku. Setiap kali pementasan orkes selalu saja yang begitu, entah apa yang ada didalam kepala mereka dengan Cuma-Cuma mengeluarkan uang yang tidak bermanfaat. Sebagai seorang wanita, kerap kali aku merasakan malu sedih diperlakukan seperti barang murahan. Namun harus aku akui bahwa adalah seorang penyanyi orkes dangdut. Pandangan orang-orang mengenaiku itu aku sudah memahaminya, kalau aku adalah wanita penggoda, wanita yang tidak mempunyai martabat dan harga diri. Bahkan sempat aku hendak dibeli oleh sorang pengusaha kaya. Aku menolaknya. Memang aku adalah wanita penghibur. Namun aku tidak ingin menjual kehormatanku.

Berawal dari jalan itu aku mulai melihat dirinya. Dia tidak terlalu tampan namun enak dipandang dan apabila dia tersenyum sungguh manis. Dia seorang laki-laki yang penuh wibawa. Aku jatuh cinta kepadanya. Namun aku tidak tahu siapa dia, darimana asalnya. Aku malu untuk mengenalnya. Aku sungguh malu jika dia tahu bahwa aku seorang penghibur.
Sesak yang kurasakan mungkin tidak akan menuai penyelesaian yang indah. Kurasakan memudar dalam angan-anganku. Setiap persimpangan mataku kutancapkan kesegala arah. Dalam setiap persinggahan kusempatkan telinga ini kupertajamkan demi mendengarkan hembusan nafasnya. Sering aku berharap hembusan angin ini membawa setitik warna dan aroma tubuhnya. Dalam lantunan nada pula kumemohon agar dia mendengarkanku.
Aku adalah wanita penghibur jagat panggung dengan saweran sebagai pemeriah suasana yang itu menjadikan aku semakin kalut dibawah bayang kelabu. Mendung dalam hati senantiasa mengawasiku dari setiap sudut hati. Setiap rupiah yang aku terima tak menghapuskan rasa hina. Setiap elu-eluan dan sorak-sorai penonton tak juga mengindahkan gejolak raga. Peluh dan pesakitan dalam batin ini semakin mencuri kesadaranku tentang dia. Aku ingin berhenti. Aku malu menjadi wanita saweran di atas panggung. Yang setiap mata senantiasa menelanjangiku. Aku tahu mereka melihatku tanpa busana padahal aku berpakaian rapi dan sopan. Aku juga bergoyang tak seperti wanita murahan. Namun aku tahu bahwa mereka melihatku dari sisi lain. Aku tahu itu. Karena aku hanyalah wanita penghibur, wanita saweran.
Apakah aku tidak berhak jatuh cinta layaknya manusia yang lainnya. Menikmati jalannya percintaan muda-mudi. Berbagi keluh kesah, berbagi bahagia dan sedih. Apakah seorang wanita saweran tidak dapat jatuh cinta. Aku ingin yang sewajarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar